Seri Alor: Kalabahi dan Sisi Barat

Anak-anak yang ikut kami berenang di pulau Kepa berpose sebelum pulang
Begitu tiga buku di tangan mereka, kerumunan anak-anak itu langsung berpencar dalam kelompok-kelompok kecil mencari tempat. Antusias sekali mereka, buku-buku cerita bergambar ini dieja dengan jelas sekali terdengar di telingaku. Ah, mereka haus dengan bacaan tetapi dengan kondisi seperti ini sepertinya bacaan bukan hal yang mudah mereka dapatkan. Beberapa anak yang sedang asyik mandi di laut ikutan berkerumun. 
Pak Sueb bersama anak2 yang baca buku sumbangannya
Itu buku-buku terakhir yang dibagikan pak Sueb, kepala kantorku yang kebetulan lagi bareng tugas di Alor. Beberapa buku sebelumnya dibagikan di jalan tiap kali lihat anak-anak kecil berjalan di pinggir jalan. Tidak semua menerima sih, ada beberapa yang malah takut gak mau dikasih. Semua buku yang dibagikan memang buku cerita bergambar, karena pak Sueb berpendapat jika ingin mengubah manusia di sebuah tempat ubahlah lebih dahulu dari anak-anaknya.
Aku gak nyangka juga idenya, coba kalau aku tahu mungkin aku bisa ikut nyumbangin buku untuk mereka. Masalahnya bukuku udah jarang yang buku anak-anak. Koleksi buku cerita Tintin dan Donald Bebek udah raib entah kemana. Kan gak mungkin aku kasih buku "Pemikiran Kirim di Indonesia" atau novel macam "Da Vinci Code", bisa-bisa buku-buku itu jadi tambahan untuk masak air. Aku lupa di desa mana saja buku-buku itu dibagikan, tapi perkiraanku ini masih di pertengahan antara Kalabahi dan Alor Kecil. 
Begitu melihat antusiasme anak-anak seperti ini, beberapa buku yang dibawa jadi terasa tampak kurang. Pak Sueb sendiri bersemangat untuk lain kali membawa lebih banyak buku-buku seperti ini. Semangat pak! Kalau perlu nanti bawa satu kardus, aku bagian bawain aja deh hahaha..... 

Alor Kecil: Al-Qur'an Tertua di Asia Tenggara
Hari ini Jum'at, pak Sueb sudah bilang dari kemarin kalau kita hari ini mau sholat Jum'at di Alor Kecil sekaligus mau membuktikan tentang keberadaan Al-Qur'an tua dari kulit kayu yang masih tersimpan rapi di sini. Karena jarak dari Kalabahi tidak terlalu jauh, baru sekitar jam setengah sebelas kita berangkat. Langit terbilang cerah, walau gumpalan-gumpalan awan masih juga berserakan di langit. Semoga hari ini tidak hujan seperti dua hari kemarin.


(1) Mushab Al-Qur'an tua dari kulit kayu yang masih utuh tersimpan
(2) Gambar perahu layar Tuma Ninah di salah satu lembar Al-Qur'an
Beberapa meter setelah dermaga rakyat di Alor Kecil ada sebuah masjid yang tampaknya baru dipugar, belum selesai sehingga sebagian besar masih berwarna semen. Namanya masjid jami Babussholah, masjid berlantai dua ini tampak kontras dengan kondisi di sekeliling masjid.
Kami masuk ke jalam samping masjid dan memarkirkan kendaraan persis di belakang masjid. Jalanan disini terbilang kecil sehingga jika kendaraan roda empat saling melintas harus mengurangi kecepatan, jadi tidak bijaksana memarkirkan kendaraan di pinggir jalan.
Di seberang samping masjid terdapat sebuah rumah kecil dan di depannya ada sebuah kamar kecil, disitulah tempat diletakkan sebuah Al-Qur'an tua itu.
Empunya rumah keluar dan menyambut kami. Setelah kami berbasa basi sejenak, pak Sueb menyatakan tujuannya. Empunya rumah masuk ke bilik kecil itu dan tak lama kemudian membawa sebuah Al-Qur'an yang telah terbuka. Di bawahnya ada sebuah kotak kayu yang menjadi tempat untuk menaruh Al-Qur'an. Al-Qur'an ini terbuat dari kulit kayu berwarna putih kekuningan.
Menurut cerita, pada tahun 1523 lima orang bersaudara dari Ternate pada masa Kesultanan Babbullah bernama Iang Gogo, Ilyas Gogo, Djou Gogo, Boi Gogo dan Kimales Gogo disertai seorang mubaligh lainnya bernama Abdullah. Mereka memiliki misi yang sama dengan Mukhtar Likur, yaitu menyebarkan ajaran Islam di kepulauan Alor. 
Masjid jami masyarakat Alor Kecil
Mereka menyinggahi daratan Alor untuk pertama kalinya di Vetelei (Tanjung Bota, Desa Alila). Setelah itu mereka meneruskan perjalanan kembali dan singgah di suatu tempat bernama Tangtang (sekarang bernama desa Aimoli) yang kemudian bertemu dengan raja Baololong I (Raja Bungabali). Dalam pertemuan ini mereka saling bertukar cinderamata yaitu kelima Gogo memberikan sebuah Nekara dan Raja Baololong I memberikan pisau khitas kepada kelimanya. Dari Tangtang, mereka berpisah dengan janji akan bertemu kembali di Pusung Rebong (pusat kerajaan Bungabali). Saat di Bungabali terjadi kesepakatan bahwa salah satu satu dari kelima Gogo bersaudara tersebut harus tetap tinggal di Bungabali untuk menyebarkan agama Islam, yang kemudian dilaksanakan oleh Iang Gogo dengan bekal sebuah Al-Qur'an dari kulit kayu dan pisau khitan. Iang Gogo menikah dengan seorang puteri bangsawan kerajaan Bungabali bernama Bui Haki.
Keempat Gogo lainnya berlayar kembali dan menunaikan tugas penyebaran Islam di beberapa tempat, yaitu: Ilyas Gogo menetap di Tuabang, Djou Gogo menetap di Baranusa, Boi Gogo menetap di Solor, dan Kimales Gogo menetap di Kui, Lerabaing. 
Menurut cerita, ada gambar perahu di dalam Al-Qur'an yang merupakan perahu layar yang mereka tumpangi untuk berlayar yang mereka namai Tuma Ninah yang berarti "Singgah/Berhenti Sebentar".
Aku sempat menanyakan adanya sedikit warna gelap (agak gosong) di beberapa halaman awat dan pinggiran Al-Qur'an. Menurut empunya sekarang, tahun 1982 pernah terjadi kebakaran yang memusnahkan seluruh pondok dan isi rumah termasuk seluruh benda-benda peninggalan Iang Gogo yang dibawa dari Ternate (Maluku Utara), tetapi anehnya Al-Qur'an tua ini tidak terbakar dan utuh. 
Katanya ini Al-Qur'an tertua di Indonesia bahkan di Asia Tenggara karena diperkirakan usia Al-Qur'an ini sudah sekitar 800 tahun. Cukup awet juga mengingat penyimpanan barang ini tidak seperti penyimpanan di perpustakaan yang untuk benda-benda berharga seperti ini.

Menatap Senja di Alor Kecil
Candra tertawa denganku, tangannya mengacungkan huruf V saat aku memotret rombongan yang sedang mengangkat peti mati menuju perahu. Candra Saleh, nama lengkapnya dan sekarang dia sudah kelas satu di SMP dekat sini. Dia bersama Andika dan Saleh menemaniku menikmati senja di pinggir dermaga. 
Sore itu tidak banyak aktivitas perahu, hanya ada satu rombongan beberapa orang yang mengangkut peti mati itu. Katanya mereka mau membawanya ke pulau Pantar. Cuma Andika yang masih kelas empat SD, namun dialah yang paling semangat bercerita. Orang tua Andika tinggal di samping dermaga yang membuka warung untuk para penumpang yang akan dan ke pulau Pantar dan pulau Pura.
Candra, Andika dan Saleh: anak-anak Alor Kecil
Dari pinggir dermaga yang saat ini sedang surut, tampak bayangan pulau Pantar di seberang, mungkin hanya beberapa ratus meter dari sini. Dibelakang pulau Pantar tampak bukit tinggi yang awalnya kukira juga bagian dari pulau Pantar namun tertanya adalah pulau lain, yaitu Pulau Pura. Pulau Pantar sendiri letaknya paling jauh, masih tampak dari sini namun hanya tampak seperti bayangan gelap saja.
Ada beberapa pulau lain yang dengan fasih disebutkan oleh Andika yang aku sendiri sudah susah mengingatnya. Andika juga bercerita tentang bagaimana pulau-pulau ini membentuk bagian-bagian tubuh naga. Ada satu pulau Ternate yang ditunjuk oleh Andika. Nama ini berbeda dengan nama Ternate yang kita kenal, namun punya sejarah yang berhubungan dengan orang-orang yang menemukan pulau ini. Asyik juga bercerita dengan mereka. Anak-anak yang masih polos ini bercerita banyak hal tentang kampung mereka, tentang cita-cita dan keinginan mereka suatu waktu nanti saat mereka besar.
View pulau Kepa senja hari, bukit di belakang adalah Pulau Pura
Sebenarnya aku kemari sehari sebelum pak Sueb kemari. Waktu itu rombongan kantorku baru akan datang esok harinya. Karena tidak ada aktivitas siang itu akhirnya aku sendiri ke Alor Kecil ini sementara Arif yang menemaniku masih tertidur nyenyak. Aku sendiri gak enak mau membangunkannya. Langit sedang mendung berat saat itu dan ada kemungkinan hujan seperti hari kemarin. Aku sih nekat saja, berharap justru dengan situasi seperti ini aku bisa mendapatkan foto yang lebih dramatis walaupun punya risiko kehujanan.
Rumah dan warung Andika di samping dermaga
Candra menawarkan perahu milik pamannya kalau ingin mengunjungi pulau Kepa yang ada di seberang itu. Aku mengiyakan tapi tidak untuk kali ini, karena menurutku sudah terlalu sore. Di samping itu, aku juga lupa tidak membawa celana dan kacamata renang.
Di bawah dermaga tampak air yang berwarna bening berkecipak, namun di pinggir dinding dermaga banyak sekali mahluk laut berwarna hitam dengan duri-duri panjang yang menyeruak memenuhi seluruh badan mereka. Mahluk laut inilah yang biasa disebut Bulu Babi. Jangan meremehkan mahluk itu, jika sampai kalian tertusuk maka sangat mungkin kamu akan merasakan rasa pegal dan kebas beberapa hari. Mungkin ada semacam racun tertentu yang mengakibatkan rasa itu, sangat berbeda dari sekedar tertusuk benda runcing. Banyaknya binatang seperti ini juga pertanda kalau terumbu karang di daerah itu sudah banyak mengalami kerusakan.
Namun Candra dan Andika menyakinkanku, kalau masih banyak tempat yang memiliki terumbu karang yang bagus. Salah satunya pulau Kepa di depan kami. Bahkan tak jauh-jauh, di seberang kanan dermaga ini juga masih banyak terumbu karangnya.

Berenang di Pulau Kepa Dengan Mereka
Pak Darto berhati-hati menaiki perahu yang masih suka oleng kecil kekiri kanan dihempas riak-riak kecil. Jangan tanya dengan Danu, Candra dan beberapa anak lain yang dengan lincah meloncat ke atas perahu. Perjalanan ke pulau Kepa bukan cuma kami sendiri. Selain kami berempat, anak-anak dari pulau Kepa juga turut. Tak kurang dari tujuh anak ikut, termasuk Candra dan Danu. Suasa perahu menjadi ramai oleh anak-anak. Sayang Andika dan Saleh tidak bisa ikut, padahal kemarin rencananya mereka juga mau ikut. Perahu yang aku gunakan ini milik ayah Candra yang kami sewa dua ratus ribu untuk pulang balik. Sebenarnya kalau mau menawar masih bisa mendapatkan harga seratus sampai dengan seratus lima puluh ribu rupiah.

Anak-anak di atas perahu yang sudah rusak
Selesai sholat Jumat kami memang tidak langsung berangkat karena dirasakan masih terlalu panas. Untuk membuang waktu, mobil yang kami tumpangi sempat berkeliling menelusuri sisi Barat dari kepala Alor. Walaupun sebagian besar dari tempat ini berpasir putih, ada beberapa tempat yang walaupun memiliki pasir putih, namun ada batuan berwarna hitam.
Perjalanan tak lebih dari sepuluh menit dan langsung merapat ke dermaga yang berada di sisi berhadapan dengan dermaga Alor Kecil. Begitu perahu mendekati dermaga, air berwarna biru tosca langsung menyambut mataku. Pemandangan terumbu karang jauh di bawah air terlihat jelas, mungkin karena airnya sangat jernih dan laut mulai surut.
Pak Sueb di pantai masih di bagian kepala Alor
Tapi anak-anak mengajak aku ke tempat lain karena menurut mereka arus di depan dermaga sangat kencang dan sering terjadi perpindahan arus laut. Aku sendiri pernah menyaksikan video dari fenomena unik dari tempat ini saat terjadi arus laut. Pada bulan-bulan tertentu sekitar satu atau dua kali ada arus bawah laut yang menjadi perairan ini sangat dingin yang mengakibatkan banyak ikan yang teler dan pindah ke pinggir. Saat hal itu terjadi, di video aku menyaksikan segala jenis ikan memenuhi pinggir pantai. Sangat banyak bahkan aku sampai bilang kalau pada saat itu ikan tampak lebih banyak dari air laut. Dengan segala benda yang ada, kaos, jaring, topi, semua menjadi alat untuk mengambil ikan dengan mudah. 
Aku dan teman-teman mengikuti anak-anak, mereka menelusuri sisi utara hingga bertemu dengan sebuah resort dengan rumah-rumah berbahan kayu dan atap ilalang dan berpagar kayu. Resor ini katanya milik seorang bule yang telah lama menjadi pemandu wisatawan asing yang ingin melakukan penyelaman di Kepa.
Sekedar informasi, Alor ini punya lokasi penyelaman yang disebut-sebut salah satu terbaik di dunia. Tentu saja hal ini tidak bisa aku buktikan sendiri karena aku tidak punya lisensi dan pengalaman menyelam. Bule ini sangat ketat persyaratan, mereka tidak akan pernah mengijinkan kita menyelam jika tidak punya lisensi. Apalagi di beberapa titik penyelaman yang viewnya sangat indah juga terkena berbahaya.
Kegembiraan anak-anak yang begitu polos
Aku melihat sendiri bagaimana arus dari selat ini membuat dua orang penyelam pencari ikan (dengan alat panah) harus berjuang menepi karena terbawa arus laut. Dari resor itu, anak-anak berjalan ke samping pagar dan melewati rerimbunan pepohonan.
Akhirnya kami dibawa disebuah pantai yang menurut mereka menjadi favorit para bule untuk menyelam. Sayangnya tidak untuk snorkling karena karang landainya jauh, jadi kami harus berjalan beberapa puluh meter sebelum menemukan kawasan terumbu karang.
Akhirnya kami balik lagi ke tempat semula. Memang di tempat semula kami tidak bisa berenang terlalu jauh karena kondisinya pantainya curam, beberapa meter ke depan langsung laut dalam. Aku juga sempat merasakan air tiba-tiba berubah dingin, hal yang menjadi kan Pak Sueb mengalami kram kaki sehingga berpindah ke pinggir. Yang paling asyik adalah Danu, dia berkesempatan banyak menikmati alam bawah laut dengan kacamata pinjaman kami. Anak-anak tampak begitu tertarik, padahal kami kira mereka sudah sangat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar