Seri Rote: Nemberala, We Call It Beach

Punya laut yang indah? Kamu dapat membandingkannya dengan Nemberala. Ini yang kita sebut pantai...
Tempat kedua yang aku datangi di Rote adalah Nemberala. Kalau aku bilang, Nemberala sekarang ini sudah mirip kampung bule. It’s not a joke, dude! Kalau kamu berkunjung ke pantai Nemberala suatu hari nanti kamu akan tahu persis apa yang kurasakan saat disana. Di sepanjang pantai Nemberala, kalau kamu menemui bangunan dengan penataan yang bagus maka kemungkinan itu milik bule. Beneran? Yup, gak salah lagi. Di sepanjang pantai yang membentang di sisi barat dari pantai Nemberala hingga ke pantai Boa satu demi satu bule mulai membangun di tempat ini. Gak perlu ditanya alasanya lah, gelombang tinggi, pasir putih menghampar dan pohon kelapa adalah paduan khas tentang surganya para pecinta surfing. 
Aku pernah ke tempat ini sekitar tahun 2008 (persisnya ntar aku cek lagi di album foto facebook, lupa sih hihihi). Sudah lima tahun lalu lamanya dan setelah itu nyaris tidak pernah mendatangi Rote lagi. Waktu itu tempat ini masih tempat ini kondisinya jalannya tidak semuanya beraspal, bahkan untuk sampai ke pantai Boa waktu itu kami harus melewati jalan yang masih berupa tanah berpasir putih. Keren kan? Sekarang jalan beraspal telah membentang di sini walau tetap saja tidak semuanya mulus dilewati karena belum jalan besar.

Salah satu pantai di sisi utara Nemberala
Sekitar hari Minggu aku berdua dengan Sonny naik motor ke Nemberala. Tujuan awal kami justru bukan Nemberala karena aku dan teman-teman lain berencana mampir ke Nemberala lain waktu sehingga perjalanan kali ini sebenarnya kami mau ke pantai Oeseli yang berada di sisi selatan pulau Rote. Tapi karena perhitungan waktu saat itu akhirnya tujuan kami belokkan ke arah Nemberala yang lebih dekat.
Sonny menjemputku dengan motornya jam tiga sehingga aku dan dia baru bisa berangkat setengah empat sore. Menuju ke arah barat, satu jam pertama perjalanan berjalan nyaman karena kondisi jalan cukup bagus. Kami melewati daerah Busalangga, disini ada pasar Busalangga yang buka pada hari-hari tertentu, kalau tidak salah hari Sabtu. Yang aku ingat dulunya sangat terkenal ramai pada saat buka, dan disana menjadi tempat tujuan pelancong yang ingin menjadi makanan khas Rote dengan harga murah: gula Rote (gula dari pohon Lontar) baik yang padat berbentuk lempengan bulat pipih atau yang masih berupa air gula, kain rote yang berasal langsung dari pembuatnya, susu goreng dan beberapa hasil kebun. Aku ingat dulu beli bawang merah disini. Kalau umumnya bawang merah dijual di pasar sudah tinggal bijinya maka di pasar Busalangga bawang merah dijual dengan tangkai daunnya sebagai alat pengikat.

Kelapa berbatang tinggi yang banyak ada di sini
Aku juga sempat mampir dulu di Danau Tua yang terletak di pertengahan jalan. Aku gak tahu kenapa disebut danau tua, tapi di pinggir-pinggir danau banyak tumbuh pohon-pohon yang tidak terlalu tinggi tapi batangnya besar berurat yang menunjukkan bahwa batang-batang pohon itu sudah berusia lama. Mungkin beberapa pohon telah berusia ratusan tahun lebih. Sayangnya danau ini sudah mengalami pendangkalan. Aku tidak terlalu lama disini karena waktu makin mepet.
Sayangnya beberapa kilometer menuju Nemberala justru jalanan masih jelek, kondisi jalan yang aspalnya sudah mengelupas disana-sini. Ada beberapa ruas yang justru tinggal batu-batu saja. Dan itu justru memakan waktu seperempat jam lebih untuk dilewatinya. Sebuah gerbang selamat datang membentang di antara jalan yang menunjukkan kita telah sampai di pantai Nemberala. Tepat dipertigaan di pinggir pantai, kami memilih berbelok ke kanan arah ke utara karena arah itu yang belum pernah aku lewati. Menurut Sonny, ke arah sana kita menuju ke perkampungan dimana banyak perahu disandarkan. Disepanjang jalan itulah banyak aku temui bangunan-bangunan berpagar batu rapi yang menghalangi pemandangan langsung ke pantai yang adalah rumah-rumah para bule. Pagar-pagar batu menjadi pemandangan khas di Rote, namun jika umumnya masyarakat membuat pagar batu dari batu karang hanya selapis sehingga masih tampak berongga tidak rapat maka umumnya bangunan-bangunan yang bagus membuat pagar batu beberapa lapis sehingga tidak berongga. 

Rumput laut yang gagal panen karena kena gelombang
Di salah satu pantai, Sonny memarkir motor di bawah pohon Jambu mete lalu turun diantara karang-karang hingga bertemu pantai di sisi lekukan dalam karang yang berpasir putih. Beberapa perahu nelayan bersandar. Di kejauhan tampak seseorang sedang memunguti sesuatu, yang setelah aku dekati ternyata rumput laut. Beberapa hari ini memang cuaca sedang tidak bagus, kalau gak salah hampir lima hari pelayaran kapal cepat terpaksa bersandar di Kupang tidak bisa ke Rote karena cuaca yang buruk sehingga BMKG melarang pelayaran. Ternyata akibat cuaca buruk ini tidak hanya berimbas ke pelayaran tapi juga ke nelayan dan petani rumput laut. Rupanya rumput laut yang dikumpulkan ini adalah rumput laut laut yang mereka tanami dan berantakan akibat hempasan gelombang yang tidak bersahabat.
Selain itu, gelombang juga membuat rumput-rumput laut yang masih terpasang di ikatan dipenuhi sejenis lumut hijau panjang. Saat aku memotret seorang ibu yang sedang membersihkan rumput lautnya yang masih bisa diselamatkan, masih bisa bercanda “Anak, mama ini capek sekali pinggang bersih-bersih rumput laut, tapi anak foto mama nih, mama langsung segar memang,” yang disambut tawa rekan-rekannya sesama ibu. Ah, semoga masih banyak yang bisa diselamatkan setidaknya masih layak lah hasil yang bisa dibawa pulang ke rumah. Sekarang di sepanjang pantai lebih banyak tumbuh kelapa-kelapa yang pohonnya pendek. Hanya di titik-titik tertentu aku masih menemukan kelapa berbatang tinggi dan itu terasa eksotis sekali. Salah satunya ada di kanan dari Nemberala Resort.


Salah satu rumah punya bule, sepanjang pantai inilah viewnya
Saat matahari mendekati cakrawala, beberapa perahu yang mengangkut bule-bule yang habis berselancar merapat ke pantai. Jadi kalau lihat bule cantik jalan cuma pake two piece bawa papan selancar jangan langsung melotot ya gan, ente diculek ntar.... hahahaha... Dan juga jangan heran kalau melihat bule tua namun masih perkasa dengan papan seluncurnya. Kegilaan mereka dengan berselancar sepertinya tidak bisa dibendung. Coba saja seandainya mereka dibolehkan membeli tanah atau menjadi warga Indonesia pasti mereka sudah berbondong ganti kewarganegaraan. Untung peraturan kita tidak membolehkan tanah dibeli warga asing, sehingga walaupun warga asing berdiam disini tetap saja mereka tidak memiliki nama atas sertifikat itu. Sebagian lagi ada yang berkeluarga dengan penduduk lokal dan tentu saja sertifikat-sertifikat tanah itu atas nama pasangannya.
Beberapa hari kemudian aku habis dari liat sekolahan, pas makan juga mampir di Nemberala lagi. Awalnya sih udah mau ke Oeseli tapi eh ternyata jalan potongnya lagi ada pekerjaan penambahan sirtu (pasir batu), keruan aja gak bisa dilewati. Karena perut sudah bernyanyi keroncongan jadi akhirnya mampir yang paling deket. Jadinya ya ke Nemberala lagi. Lumayan juga, makan siang di bawah pohon kelapa sambil memandangi laut yang berwarna biru kehijauan.

Melepas hari dengan sebotol bir dan sunset yang indah
Minggu depannya akhirnya aku bisa berangkat berempat bareng Sonny, Try, dan Rey karena beban kerjaan sudah tidak terlalu banyak. Aku berangkat sudah masih siang sekitar jam setengah tiga. Jadi sebelum nanti ke Nemberala, kami mau ke pantai Boa. 
Rey sempat bingung bagaimana mereka berselancar karena dia melihat di sepanjang pinggir pantai lebih banyak dipenuhi karang dan tanaman rumput laut yang dibudidayakan. Aku menunjuk di kejauhan dimana ombak tampak bergulung-gulung besar. Jadi disini jika ingin surfing bukan langsung nyemplung dan mendapatkan ombak di pinggir pantai melainkan harus berenang jauh ke tengah dimana karang sudah tidak ada. Jadi jangan takut walaupun ombak Nemberala jika pada musimnya terkenal besar tapi itu hanya di kejauhan karena di pinggir pantai terhalang karang. Itu lah kenapa walaupun terkenal dengan ombaknya, tapi Nemberala juga banyak petani rumput laut.
Kami kembali dari pantai Boa sudah sore, matahari sudah tenggelam dalam warna kuning memerah. Saat warna kemerahan mulai menarik diri oleh warna biru gelap, sekelompok bule duduk-duduk di lopo depan sambil  ngobrol. Denting gitar mengalun menyanyikan lagu reggae. Pantai indah berpasir putih dan jajaran pohon kelapa berpadu sempurna dengan lagu-lagu dari Bob Marley... thar’s beautiful moment dude... siapa yang menyalahkan para bule tua ini menikmati keindahan surga Indonesia di pantai Nemberala.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar